Kamis, September 01, 2016

IKATAN HIDROGEN YANG MULAI TERPUTUS



IKATAN HIDROGEN YANG MULAI TERPUTUS


         SELAMAT DATANG DI KAMPUS MADRASAH ALIAH NEGERI (MAN) PRINGSEWU. Itulah kalimat pertama yang kudapati saat menapakkan kaki di sekolah baruku  ini. Tulisan yang terpampang begitu jelas tepat setelah melewati pintu gerbang. Rasa heran, canggung dan bingung melandaku saat itu. Mungkin wajar, ini kali pertamanya kedatanganku di gedung maadrasah ini. Tak satupun kukenali dari kerumunan orang yang berlalu lalang di depan mataku, mengingat segala sesuatunya kupersiapkan sendiri sejak mulai pendaftaran.
         Singkat cerita, berakhirlah kegiatan masa orientasi siswa yang sudah berjalan mulus selama tiga hari. Tak ada yang istimewa memang. Itu bagiku. tapi hari ini hari keempat, mungkin sudah agak berkurang rasa  canggungku karena beberapa teman baru sudah kukenali dengan baik. Dan berharap ada yang istimewa hari ini, entah apapun itu.
         Bel panjang dari arah meja piket kini bersiul. Saatnya memasuki ruang kelas untuk memulai menjadi tholabul ilmi. Pak Ian, begitulah sapaannya. Lengkapnya Sebastian Maulana. Aku menatapnya dengan pandangan yang pernah dilepaskan Ali Bin Abi Thalib ketika melihat wanita cantik melintasi pelupuk matanya. Sesaat kemudian aku teringat hadisnya, “ Wahai Ali, janganlah kau ikuti pandangan pertama dengan pandangan kedua. Karena pandangan pertama adalah bagimu, dan pandangan yang kemudian bukan bagimu.” Mungkin itulah dosa pertamaku di sekolah yang baru ini. Wajahnya sungguh mrembahana, senyumnya begitu manis, dan namanya pun keren. Tetapi ketika ia mulai menari-narikan spidol di atas white board, aku terpana.  Aku tak yakin Pak Ian benar seorang guru, karena tulisannya justru lebih mirip tulisan anak SD yang baru bisa memegang pulpen.
         Aku sedikit terkejut ketika Pak Ian bertanya, “Apa definisi dari Biologi?” Sekatika muncul di benakku LKS Biologi SMP yang pernah kubaca. Kemudian kujawab pertanyaan itu dengan rincinya, berharap Pak Ian akan sudi menanyakan siapa namaku. Tapi kenyataan tak mengharuskanku berharap banyak darinya karena hanya ucapan, “Terima kasih, sudah disimpulkan.” Yang dilontarkan saat kuakhiri kalimatku.
       Tanpa sadar, ternyata sedari tadi mataku selalu menangkap setiap gerakannya. Hal itu berlangsung tak  hanya sekali.
       Dari aktivitas dan perilakunya memberitahuku bahwa Pak Ian adalah pemuda alim lagi berakhlak mulia. Aku makin kagum dan terpesona ketika sesosok bayangan itu berada dalam genggaman kedua bola mataku atau justru berkelebat di benakku. “Pak Ian, seandainya aku bukan muridmu, aku mau jadi.. . . . ah, jangankan jadi pacarmu. Jadi selingkuhanmu pun aku rela.”
     Astaghfirullahaladzim. Aku nyaris melontarkan kalimat itu ketika Pak Ian sedang asyik menerangkan pelajaran. Kini cukup mata dan hatiku saja yang berdosa, tak perlu lisanku pun ikut terlibat di dalamnya.
     Menjalani semaaster satu sebagai anak kelas sepuluh terasa sangat lama. Semuanya yang serba baru membuatku harus membiasakan diri dengan hal-hal baru yang ada di sini. Mulai dari masuk super pagi, tadarus sebelum memulai pelajaran, pulang sore, dan masih banyak lagi. Namun seorang Pak Ian berhasil menyita waktuku. Semua yang tadinya berjalan lambat kini terasa begitu cepat. Setiap jamnya terasa  satu menit. Dan menit-menit berlalu bak angin menyentuh dedaunan. Kini semester satu telah berlalu meninggalkan stasiun dengan pemandangan seperti di dalam kereta api.
        Pagi itu aku bangun tidur sedikit lebih siang daripada biasanya. Segera kuraih handuk dan sikat gigi, lalu bergegas mandi tanpa membantu orang tua sebelumnya. Sebenarnya ini belum terlalu kesiangan. Tapi ini hari kamis. Adalah hari yang paling kuhindari untuk berangkat terlambat meskipun di hari-hari lain aku sering datang terlambat. Kau tahu mengapa? Karena jam pertama dihari kamis adalah milik Pak Ian. Aku ingin selalu mengikuti pelajarannya dari awal hingga selesai, sehingga segala sesuatunya secara tergesa-gesa. Ternyata eh ternyata gerbang sekolah belum ditutup ketika kusampai di sekolah.
       “Aneh memang. Tak biasanya Pak Ian bersikap seperti ini.” Gumamku ketika ia berkata, “Saya butuh seorang cewek buat bantuin saya. Ada yang mau maju?”
       Sembari menjawab rasa penasaran, aku yang sudah lama menunggu tapi tak ada yang rela menuruti permintaan Pak Ian akhirnya memberanikan diri menyeret kaki melangkah ke depan kelas. Sampai di sini justru aku merasa bingung plus canggung karena Pak Ian menatapku dengan senyuman manja. Oh my God! Hal yang tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Ia  malah menggombaliku dengan kata-kata romantis seperti hendak melamar wanita pujaannya. Ubun-ubunku terasa bagaikan tertetesi embun sejuk di bawah pohon yang gersang. Desah suara angin merdu menggoda telimgaku. Oh, jantungku seolah ikut bernyanyi dengan genre hip hop. Dan sentuhan hormon di sekitar wajahku tak dapat kumenafikkan. sesekali kusembunyikan wajahku di balik telapak tangan karena bahagia dan malu bercampur menjadi suatu larutan yang dibumbui serbuk cinta.
       Setelahnya aku masih tak habis pikir dengan tingkah Pak Ian. Ternyata di balik penampilannya yang pendiam tersimpan berjuta kemunafikkan yang disukai para kaum hawa.
       Film romantis yang baru saja kuperankan bersama kawan mainku itu menjadikan kenangan terindah selama masa sekolahku. Aku makin betah saja menimba ilmu di sini.
      Dering telepon terdengar sayup-sayup dari dalam tas, memaksaku untuk menghentikan lamunan indah di sudut ruangan kamar ini. “Halo, Kara. Ada apa?” sapaku.
     “Hai, Moli. Gimana kabarnya?”
     “Amazink, Kara.” Jawabku.
     “Wow. Kenapa? Pasti lagi seneng tuh.” Pertanyaan dari balik telepon itu kedengarannya begitu penasaran.
     “Emm, mau tahu aja.” Jawabku singkat.
     “Moli, keluar dong. Aku di depan rumahmu nih.” Pintanya.
     “Really?” Aku terkejut. Tak pernah sebelumnya Kara datang ke rumah tiba-tiba mengingat rumah kami terpisahkan beberapa kabupaten. Segera kututup telepon dan bergegas menemuinya.
     Untuk melepas rindu selama dua bulan tanpa pertemuan, ia mengajakku ke sebuah tempat. Di sanalah terjadi percakapan asyik dan perdebatan seru antara kami berdua.
     Kara memulainya dengan kalimat pertanyaan, “kayaknya seneng banget sih. Ada apa nih? Hayo...”
     “Nothing.” Jawabku. “Seneng aja tiba-tiba kamu dateng terus ngajak aku ke sini.”
     “Nggak, ah, pasti ada yang lain.”
     “Serius, Kara.” Sahutku dengan pandangan mencoba meyakinkan.
     Tetapi Kara. Kara terus memaksaku untuk bercerita. Akhirnya tak kuasa ku menyingkap film romantis hasil karyaku dengan Pak Ian pagi tadi.. Kara mulai cemburu. Kini ekspresinya kesal.
     “Jadi kamu suka sama guru kamu, Moli?” tanyanya dengan mata menyelidik.
     Aku enggan mengakuinya. Sebisa mungkin kucoba elakkan pertanyaan itu. “Dengar dulu Kara sayang. Aku nggak...”
     Sepertinya ceritaku tadi benar-benar membuat Kara habis kesabarannya. Lantas ia memotong kalimatku, “Apa Sayang? Nggak bisa dipungkiri kalo kamu memang beneran suka, kan? Kamu bikin penantianku sia-sia. Aku jauh-jauh dateng ke sini Cuma buat nemuin kamu, karena aku... I’m still loving you, but...”
     “Oke, oke. Fine, Kara. Tapi kamu yang memintaku untuk cerita, kan?” ujarku mencoba membela diri.
     “Tentu kalo kejadiannya kaya gini, aku nggak bakal maksa kamu buat cerita. Moli, aku kecewa. Aku pikir kamu akan setia.” Tuturnya dengan nada lirih.
      Demi mendengar Kara tadi aku sangat merasa bersalah. “Kara, please. Kamu jangan salah paham gitu dong. Dia kan cuma guru aku. Tapi kamulah orang yang berhak aku cintai. I’m sorry if I can’t be the best like you want.” Itulah kalimat terakhir yang kuucapkan sambil menggenggam tangan Kara. Lalu kuberlalu dengan meninggalkan sepenggal kepedihan, sedangkan Kara masih menatap ke arah punggungku yang belum terlalu jauh.
     Ia berucap lirih tetapi masih terdengar di telingaku. “I’m sorry to, baby, karena aku nggak sanggup ngelanjutin hubungan kita.” Setelah itu barulah ia beranjak, meninggalkan sepotong roti dengan olesan selai kekecewaan.
     Sejak hari itu tak lagi kupermasalahkan Kara dengan duri yang pernah kutancapkan dalam-dalam daripada menuai penyesalan. Sekarang saatnya melanjutkan petualangan sebagai Moli yang sedang menggumi sosok guru idolanya.
     Lagipula akhir-akhir ini aku dituntut untuk mempersiapkan diri demi menghadapi OSN yang tinggal menghitung hari. Pak Ian dengan sabarnya membimbungku dan kawan-kawan yang akan mengikuti event bergengsi ini. Aku makin semangat menjadi bagian dari tim olompiade ini karena kesempatan untuk dekat dengan guru idolaku makin terbuka lebar.
     Siang itu sepulang sekolah kuhubungi kawan-kawanku yang akan menjadi peserta OSN juga. Tapi semuanya sudah pulang. Kini tinggal aku sendirian yang mondar-mandir tak tahu harus berbuat apa.
     Sesosok tubuh di meja piket yang sepertinya sudah tak asing lagi berada dalam genggaman kedua bola mataku. Perlahan kaki ini menyeret tubuhku mendekatinya dan memaksaku berhenti di salah satu kursi di meja piket itu. Ya. Tepat di sebelahnya. Di sebelah Pak Ian yang sedang asyik memainkan laptopnya.
      Seluruh jaringan dalam tubuhku sepertinya sudah bersiap melaksanakan tugas dari niat di batinku. Katup bibir ini mulai terbuka untuk sekedar menyapanya. Lalu kujadikan rekan-rekanku yang sudah pulang sebagai alasan untuk sekedar berbincang-bincang sejenak. Hanya ada sosok kami kami berdua disitu. Kursi dan meja sederhana, lantai dan atap yang menjadi saksi bisu bunga yang bermekaran dalam setiap sel-sel darahku.
     Kembali bibirku menerima perintah dari otak kecil ini untuk mulai bertanya macam-macam mengenai pelajaran yang belum kumengerti, tentang soal-soal OSN, dan hal-hal lain yang wajar dibicarakan. Walaupun hanya percakapan seperti itu tetapi hatiku berkata lain. Rasanya seperti berendam di air es saat suhu disekitarnya 100®C.
     Tak terasa 30 sudah kutemani Pak Ian di meja piket sembari mengerjakan tugasnya. Aku belum ingin berlalu. Tubuhku malas beranjak dari kursi ini. Seperti ikatan hidrogen yang terbentuk begitu sulit untuk dilepas dan butuh suhu ekstra untuk melepaskannya.
     “Ehm.” Terdengar suara dari balik pintu lab komputer yang terletak di sebelah tempat ini. Kuelakkan sendi di leherku untuk memastikan siapa pemilik suara itu.
       Kudapatinya tengah menonton adegan yang sedang kulakuni dan lagi-lagi bersama Pak Ian. Ia menggodaku lirih dengan senyuman diakhir kalimatnya. “Ciee... belum pulang?”
      “Masih betah.” Jawabku singkat dan lirih juga.
      Aku kepergok oleh teman sekelasku, Aquilla yang barusan menyadarkanku untuk segera berlalu dari mimpi indah ini.
     Begitu kuatnya ikatan hidrogen dengan Pak Ian membuatku selalu mengingat  setiap detiknya mimpi indah tadi, hingga sampai di rumah molekul-molekul di dalam otakku masih tertinggal disana.
      Beberapa pekan sudah lewat. Hari-hari yang selalu kuhabiskan bersam rekan-rekanku sesama tim olimpiade untuk mematangkan diri menuju kompetisi yang sebenarnya. Tak bosan-bosannya kupanjatkan doa kepada Yang Maha Memiliki Ilmu agar memudahkanku mengerjakan soal-soal di OSN nanti. Hingga tiba saatnyalah pertempuran melawan soal berlevel tinggi dimulai.
      Aku sudah bertekad untuk merebut gelar juara dalam event bergengsi ini. Berharap dapat membawa nama baik sekolah dan membuat Pak Ian banggaa sebagai pembimbingku.
     Lembaran soal di atas meja terlihat menantangku dengan muka mengejek. Memang begini rasanya duduk di kursi panas. Soal-soal itu tak terasa sulit lagi, namun jauh diatas segala kesulitan.
     Waktu telah usai. Tak ada lagi yang bisa kuulangi. Hanya tawakal dan sikap optimis yang kupunya saat itu untuk mengiringi kepergian lembar jawabanku dengan harap-harap cemas.
    Singkat cerita, dua hari setelahnya adalah saat-saat menegangkan bagi para peserta OSN termasuk aku di dalamnya. Harus menyiapkan mata untuk melihat serentetan nama berdasarkan urutan hasil perjuangannya. Aku tak melihat pengumuman itu secara langsung, hanya saja ketika salah seorang temanku menyebutkan namaku berada di urutan bawah, aku langsung patah semangat. Segera kuambil tas dan meninggalkan jam sekolah. Sebelum aku benar-benar pergi, aku sempat berpesan kepada teman sebangkuku, “Jangan tanyakan aku kalau besok aku nggaak masuk sekolah.” Lantas kuberlalu.
       Semenjak peristiwa pengumuman itu, semangatku mulai pudar. Namun sebisanya kucoba untuk bangkit kembali. Banyak teman yang men-supportku untuk tetap bersinar. Tapi yang kurasa justru ada sesuatu yang mulai menjauh dariku. Pak Ian kini seperti mencoba menghindari pertemuan denganku. Ia juga tak banyak respon saat kusapa. Dari wajahnya terlihat kalau ia kecewa dengan kerja kerasku dan kawan-kawan yang belum sempat membawa nama sekolah. Namun diantara kami semua, akulah yang paling merasa sakit jauh-jauh darinya, karena sebelumnya antara aku dan Pak Ian telah terjalin ikatan yang begitu kuat. Dan dengan datangnya kekecewaan ini, ikatan hidrogen itu mulai terputus dengan sendirinya.

Apa Itu Seni Lukis?



Apa Itu Seni Lukis?

Seni lukis bukanlah seni rupa murni yang hanya melulu mengenai estetika semata. Merujuk pada pengertian seni rupa murni yang sebenarnya yaitu karya seni yang hanya dapat dinikmati keindahannya saja tanpa memberi manfaat bagi penikmatnya. Namun dibalik itu, ada hal lain yang dapat diperoleh dari para penikmat seni lukis. Melalui karyanya, terkandung cerita, kisah, peristiwa, bahkan pesan dan pelajaran yang ingin disampaikan sang pelukis kepada masyarakat. 

Penyampaian secara kias lewat goresan-goresan kuas tak sepenuhnya dimengerti oleh semua kalangan masyarakat. Bisa jadi karya seni yang hanya menampakkan kesederhanaan justru memiliki cerita ataupun pesan yang mendalam. Keunikannya menjadikan lukisan sebagai karya seni yang bernilai tinggi, bahkan karya sang maestro dapat mencapai milyaran rupiah. Oleh karena itu, kemampuan melukis merupakan anugrah tersendiri bagi yang menekuninya.

Meskipun rezeki pelukis bagaikan “macan yang menahan lapar lalu mendapat mangsa”, namun hal ini tidak menghalangi para seniman untuk tetap berkarya bahkan hingga usia senja. Hanya saja, pemahaman masyarakat yang rendah akan sebuah karya seni membuat pasar lukisan tak selalu ramai. Seringkali sebuah lukisan ditawar dengan harga yang tak pantas menurut orang yang mengerti nilai seni. Seniman dari daerah yang masyarakatnya awan tentang seni harus rela mengalah menjemput rezeki dengan menjual karyanya ke kota-kota besar bahkan ke luar negeri.

Praktik Uang Seseran yang Membudaya dalam Dunia Pendidikan Kita



Praktik Uang Seseran yang Membudaya dalam Dunia Pendidikan Kita

Praktik  “uang seseran” dalam dunia pendidikan mungkin bukan hanya terjadi di sekolah swasta yang sejatinya butuh dana lebih untuk pembangunan dan melengkapi sarana prasarana sekolah karena tidak disokong pemerintah. Dimana-mana sekolah milik pemerintah yang biasanya menyandang kata “negeri”, misal SD Negeri, SMP Negeri, dan SMA Negeri selalu menjadi pilihan utama para siswa dengan status ekonomi menengah ke bawah karena dianggap murah. Sebagian dana penyelenggaraan pendidikan berasal dari subsidi pemerintah sehingga para wali murid merasa sedikit terbantu.

Namun dibalik iming-iming murah di muka, seringkali kita jumpai praktik uang seseran di belakang. Pembelian seragam sekolah misalnya. Pengadaan seragam olahraga atau seragam ciri khas sekolah tersebut mewajibkan para siswanya membayar dengan harga yang ditentukan sekolah. Padahal jika kita menilik harga pasar, tentu akan sangat terasa selisihnya, bahkan bisa mencapai dua, tiga kali lipat dan seterusnya. Jika kita bandingkan lagi dengan harga konveksi pasti akan kita temukan kekeliruan. “Harga di konveksi segini kok dijual segini,” begitu kira-kira komentar para wali murid dan siswa yang merasa kebertatan. Apalagi pengadaan seragam dengan sistem borongan seringkali mendapat diskon dari pihak konveksi. Bahkan tak jarang konveksi yang menurut diberi harga murah karena sebagian keuntungan dari hasil penjualan seragam digunakan untuk ongkos lelah pihak yang mengadakan atau masuk ke kas sekolah. Jika atasan sudah memberi perintah demikian dengan alasan tambahan dana penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar, ketidakberdayaan menolak perintah tersebut rasanya tidak mungkin terjadi.

Berbicara soal ongkos lelah sejatinya tidaklah pantas untuk orang berpendidikan yang harusnya dituntut bekerja secara profesional. Tidak memanfaatkan kesempatan dalam adanya kesempatan. Semua digaji sesuai porsinya, namun lagi-lagi praktek “uang seseran” seperti suudah menjadi budaya di negara kita. Harga seragam sekolah tambah tahun tambah mahal. Biaya daftar ulang dan SPP semakin melonjak dari tahun ajaran sebelumnya ke tahun ajaran berikutnya. Bahkan harga sebuah buku Lembar Kerja Siswa (LKS) semakin tak masuk akal, bisa sampai Rp. 10.000 per buku. Sungguh tak pantas dinalar sebuah buku dengan kualitas kertas rendahan, dicetak dalam jumlah banyak, dan ketebalan tak sampai menyentuh angka 50 lembar dijual dengan harga yang memberatkan siswanya. Mendengar berita kedatangan LKS saja sudah membuat bibir menggerutu, lantas bagaimana dengan semangat belajarnya?

Mirisnya lagi, belasan buku yang dibeli di awal semester dengan menyusup recehan para orangtua umurnya tak pernah panjang, pasalnya di akhir semester buku-buku itu selalu menggudang, bahkan dikilokan untuk jadi bungkus cabai. Miris bukan? Meski begitu, pihak sekolah yang mengadakan LKS sebagai buku pelajaran sehari-hari enggan menyelami sedalam itu. Ujung-ujungnya gerutu selalu tercuap di awal semester akibat semua ketidakwajaran tersebut.

Mungkin bukan hanya saya yang menyadari kekeliruan ini. Para orangtua sebagai pihak yang dibebankan dengan biaya-biaya pendidikan ini tentu lebih merasa dirugikan. Namun sekali lagi, mengapa tidak ada inisiatif untuk menelusuri kekeliruan ini dalam rapat wali murid yang diselenggarakan setiap tahunnya? Mereka hanya menurut saja dengan kebijakan yang telah ditetapkan meski sejujurnya mereka memiliki hak untuk berpendapat sebagaimana dijelaskan dalam UUD 1945 pasal 28E ayat 1 (kalau tidak salah) : “Semua orang bebas berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.”

Menelisik kepada kebijakan pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan  gratis, seharusnya para intelektual memamahi lagi apa visi misinya. Jika kenyatannya di lapangan seperti ini apakah ini sejalan atau bertentangan? Jika sejalan tentu dampak yang diterima oleh para pejuang ilmu adalah kesejahteraan. Namun jika dampak yang dirasakan adalah sebaliknya, maka perlu dikaji ulang apakah sistem seperti yang sudah saya paparkan diatas efektif dan efisien. Berkaca pada kasus ini tentu masih jauh dari kata efisien dan keefektifannya pun masih diragukan.

Saya rasa hal ini menjadi PR bagi kita semua sebagai generasi pengisi kemerdekaan untuk mengoreksi kekeliruan dalam dunia pendidikan kita. Mengoreksi bukan hanya mengetahui letak kesalahannya, namun juga berusaha memperbaiki  agar kesalahan tak terjadi berulang-ulang.

Balada Memori



Balada Memori

Terombang-ambing oleh angin keraguan. Terseret arus menyesatkan. Terjatuh dalam curamnya ujian. Dan terselimuti awan kesedihan. Itulah rasanya menjadi Lyra. Seorang remaja dengaan muka tirus dan mata sipit. Wajahnya seolah-olah delalu mengiaskan kesedihan dan kadang-kadang orangmenyuruhnya tertawa bahkan ketika ia sedang bahagia. Tetapi sinar wajahnya tak selamanya menampakkan kesedihan. Karena dibalik wajah tirusnya terdapat pesonadan talenta yang patut diacungi jempol. Ia uga menjadi teman yang suka menolong serta menghibur.

Sibuknya menjadi remaja SMA yang mengikuti banyak kegiatan organisasi di sekolah membuatnya tak punya banyak waaktu luang untuk berbenah diri apalagi mengurusi pacar. Berangkat pagi pulang menjelang maghrib sudah menjadi rutinitasnya selama dua tahun karena di SMP ia tak pernah sesibuk ini.

Mereka menganggap Lyra cerdas, bahkan jenius. Sejujurnya ia kurang setuju dengan hal itu meskipun dari dulu ia serigkali mendapat presikat 1, 2 dan 3 di kelas. Sosok pelajar seperti Lyra mengundang decak kagum dari para guru dan teman-temannya, termasuk juga aku karena selain aktif dan  pintar, ia juga dapat diandalkan. Banyak dari mereka yang ingin menjadi murid kesayangan seperti dia. Mereka hanya memandang dari luar saja. betapa kerennya Lyra yang mengikuti kelas olimpiade di sekolah, menempati kelas unggulan, dan berteman dengan banyak orang pintar. Di lain sisi, Lyra justru iri pada mereka yag bisa tertawa lepas tanpa beban, yang terlihat cerah menjalani hidupnya dan tak dikendalikan waktu.

“Di luar aku dikagumi, di dalam aku tersiksa batin. Karena kesibukanku inilah aku tak punya banyak waktu dengan keluargaku di rumah atau berjalan-jalan ria dengan teman-teman seusiaku,” ucapnya suatu hari padaku.

“Lyra, selamat ya,” sapa salahh seorang teman ketika sosoknya memasuki gerbang sekolah.
Lyra tidak mengerti itu ucapan selamat untuk apa. Dan yang paling membuatnya terkejut ketika tiba di depan kelas teman-temannya bersorak untuknya, “Selamat ya, Lyra!”

Saat itu ia baru tahu kalau dirinya memenangkan cabang Olimpiade Ekonomi tingkat Propinsi. Sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya mengingat persiapannya dalam menghadapi event itu terbilang cukup singkat.

Lyra adalah sahabat terbaikku, maka ketika itu pula ia memelukku erat dan meyakinkanku bahwa jika telah tiba waktunya nanti aku juga berkesempatan mendapat kehormatan layakya ia. Namun euforia menyambut prestasi pahlawan sekolah itu tak berlangsung lama. Teman-teman dibuat heran dengan tingkahnya yang seketika menggandengku meninggalkan keramaian itu.

“Lyra, aku tahu kamu terharu. Tapi cukup teteskan air mata saja. tidak perlu menangis di sini,” ucapku ketika Lyra berhenti melangkah sesampainya di belakang kelas. “Bukan karena itu, Nath,” jawabnya.

“Lalu apa?” tanyaku.

“Aku belum siap cerita sekarang.” Lyra meninggalkanku dalam tanda tanya dan kembali ke kelasnya.
Hari ini hari sabtu. Kegiatan apapun di sekolah akan ditiadakan pada hari ini sehingga aku biasa pulang dengannya hanya di hari ini. Tak seperti biasanya, ia menghampiriku di kelas bukan untuk mengajakku pulang bersama, tetapi mengajakku ke bukit di belakang sekolah. Kami menaiki bukit rendah itu dan dengan jelas dapat melihat pemandangan kolam-kolam ikan nan tersusun rapi di kaki bukit.

“Nath, aku menyesal memutuskan Deneb,” ia mengawali pembicaraan.

“Baru sekarang? Dulu kau bilang dia tidak pengertian. Selalu cemburu dengan kesibukanmu. So, kenapa harus disesali?” responku.

“Dulu memang begitu, Nath. Tapi sekarang berubah. Tanpa kau tahu, dia juga selalu menyemangatiku. Dia mendukungku, Nath,” keluhnya.

“Mendukung bagaimana?” tanyaku mengernyitkan kening.

“Mendukung dan memberi perhatian lebih padaku, Nath. Disaat orang lain hanya melihat prestasiku, dia memperhatiakan kesehatanku. Tanpa kau tahu juga, dia sering berkunjung ke rumah. Tapi. . . Dia sudah aku lepas dan sekarang sudah bersama orang lain, Nath.”

Aku menghela napas panjang. Menata ulang kalimat yang akan kulontarkan sebagai respon. Tiba-tiba aku terngiang sebuah kata mutiara, “Dibalik pria yang hebat, ada wanita yang mendukung penuh.” Sedikit ngawur tapi lumayan nyambung. “Coba kau tukar posisi kata pria dan wanita dalam kalimat itu. mungkin seperti itulah kira-kira,” lanjutku yang sebenarnya telah kehabisan kata-kata.

“Tanpa  kau beri tahu pun aku sudah paham, Nath,” kilahnya. “Hanya saja. . .  Aku tetap tidak bisa berhenti berharap untuk kembali seperti dulu. Seperti awal kedekatanku dengan Nilam,” tuturnya penuh kerisauan. Aku dapat melihat harapannya yang begitu besar pada Al-Nilam melebihi rasa yang timbul saat pertama kali ia jatuh cinta dengan masa lalunya.  “Fiuh. Kau ada solusi?” 

Apa lagi yang akan kukarang di hadapannya ini? Habis sudah kata-kata di otakku. Namun sejurus kemudian ada memori yang melintas di kepalaku. Ingatan tentang sahabat kecilku. Kuceritakan saja padanya sembari mengingat-ingat.

“Oke, well,” aku mengawalinya. “Mungkin kau tidak pernah tahu bahwa sewaktu umur tiga tahun, aku memiliki seorang sahabat yang entah bagaimana ceritanya ia sekeluarga pindah ke kota lain. Aku masih terlalu kecil untuk mengerti dan mengingat,” lanjutku. “Ada  satu hal yang unik dalam persahabatan kami berdua. Kau tahu mengapa aku lebih suka membolos ke sanggar seni daripada belajar dan menjadi murid kesayangan seperti kau?” sengaja kuberi  pertanyaan agar aku memiliki sedikit waktu untuk berpikir sembari menata ulang kalimatku.

Lyra segeraa merespon dengan kesal karena merasa aku telah menyia-nyiakan potensi yang ada dalam diriku untuk bisa berkilau di dunia akademik seperti dirinya.

“Sssst. . . Aku punya alasan yang kuat untuk itu,” “Sahabatmu ini, El-Nath kecil sangat menyukai menggambar di atas tanah bersama kedua temannya. Kami bertiga memiliki impian yang sama untuk melukis seluruh jalanan kota. Menyulapnya menjadi kota seni yang tak tertandingi. Sementara usiaku bertambah, aku terus terngiang-ngiang impian itu. Ucapan sederhana itu yang meyakinkanku bahwa dengan berkarya akan dapat mempertemukanku dengan kedua sahabat yang. . . menjadi penyemangatku meski hanya impiannya yang tertinggal. Hidupku sederhana. Hidupmu yang perfect. Kau dikelilingi banyak orang, kau dicintai banyak orang. Kau pernah merasakan jatuh cinta dan. . . Dan kurasa kau tak perlu menyesali apa yang sudah bukan milikmu,” tuturku dengan lembut dan hati-hati  karena memang sejujurnya aku pandai menjadi pendengar tetapi kurang pandai memberi solusi.

“Mengapa?” tanyanya mulai penasaran.

“Karena aku tak pernah menyesali kehilangan kedua sahabatku meski aku menggantungkan harapan tertinggi pada mereka. Aku tak pernah meragukan mereka akan kembali meski dalam wujud yang lain atau orang yang berbeda. Sama juga sepertimu. Kembali berharap pada mawar yang telah layu karena tak kau sirami. Padahal kau menyesali dan ingin memilikinya lagi. Suatu saat pasti akan ada lagi. Entah dari pohon yangg sama atau pohon lain. Sampai di sini kau mengerti?”

Lyra tertunduk. Rupanya ia meresapi ocehanku yang tak seberapa. Setelah agak lama kutunggu akhirnya ia bersuara juga, “Kau benar, Nath. Semua analogimu benar. Aku terlalu sibuk dengan duniaku yang rumit hingga melupakan hal sesederhana itu.” senyum ringan namun melegakan terukir dari kedua sudut bibirnya. Yang kutahu saat itu kerisauannya berkurang. Aku lega dapat memberikan sedikit pencerahan untuknya. Yang tanpa kuterka, ia memelukku dan mengucapkan sesuatu yang sedikit terdengar aneh di telingaku, “Mawar itu tak akan layu lagi, Nath karena saat ini sedang kupeluk.”

Akupun menanggapinya dengan santai “Kau meracau? Sepertinya kau mulai belajar melucu.”

Resensi Buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels



Resensi (Jalan Raya Pos, Jalan Daendels)
Oleh Moli Molart

Judul                           : Jalan Raya Pos, Jalan Daendels 
Penulis                         : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit                       : Lentera Dipantara
Jumlah halaman           : 148 halaman

Dalam buku ini, penulis menjadi saksi sekaligus penyampai penderitaan yang dialami rakyat Indonesia pada jaman kolonial Belanda pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels. Setiap dari kita yang pernah mengenyam bangku pendidikan tentu tak asing lagi dengan nama tersebut. Dalang dibalik pembuatan jalan sepanjang 1000 km yang membentang  dari Anyar sampai Panarukan ini terkenal dengan kekuasaannya yang tak mengenal kompromi, argumentasi, bahkan tak segan menembak mati siapa saja yang berani angkat bicara di hadapannya. Kebengisannya membuat nusantara mengenalnya dengan sebutan Jendral Guntur, Tuan Besar Guntur, Mas Guntur, Marsekal Besi, bahkan di Jawa Barat disebut Mas Galak.

Dibawah kesewenangannya, membangun jalan raya sepanjang itu dalam waktu setahun saja merupakan prestasi besar pada jamannya. Penulis tak hanya mengisahkan kiprah Daendels dalam pembangunan jalan yang merenggut ribuan nyawa pribumi saja, tetapi juga menjelaskan awal mula kedatangannya melalui  surat perintah dari Raja Belanda, Lodewijk Napoleon, adik dari Napoleon Bonaparte  atau lebih tepatnya Raja Belanda dibawah Perancis.

Semua wilayah yang dilalui jalan raya pos diceritakannya oleh penulis satu per satu  mulai dari potensi alam dan manusianya, keadaan masyarakatnya sampai penderitaannya. Tidak ada satupun pekerja rodi yang tak menjemput ajal dengan cara yang berbeda, semua mati karena sebab yang kurang lebih sama. Kelaparan, kelelahan, dilanda penyakit malaria bahkan wabah penyakit pes juga menjangkiti di beberapa wilayah. Bukannya mengurusi jenazah kerabatnya dengan layak, mayat-mayat itu dibiarkan saja bertebaran di tengah jalan. Hal ini menunjukkan bahwa Pulau Jawa yang saat itu sudah menjadi pusat peradaban islam di nusantara sudah tak ada lagi daya, bahkan mengangkat tubuhnya saja tak kuasa.

Sungguh airmata, darah, bahkan nyawa yang tak pernah terungkap. Tak ada sedikitpun usaha Belanda untuk mendata siapa-siapa yang mati dalam pembangunan jalan ini. Pasca-kemerdekaan pun penelitian guna mengungkap jumlah pasti korban meninggal selalu berujung sama, disimpulkan dengan jumlah taksiran bulat seperti 5.000, 12.000, 35.000, dst. Keprihatinan penulis dalam menyikapi kegagalan penelitian mengajak kita semua agar jangan pernah melupakan sejarah getir bangsa kita.

Belum lagi di era itu, tanam paksa melengkapi penderitaan kaum petani. Di mana potensi pertanian di temukan, di situ tanam paksa digalakkan. Penjualan hasil bumi sudah barang pasti masuk ke tangan koloni guna memperkaya negerinya, sementara petani yang kelaparan itu? Diungkapkan oleh Inggris bahwa petani Jawa hanya menikmati seperempatbelas dari hasil panennya. Mirisnya lagi, mereka masih harus membayar pajak, pah, dan lain-lainnya.

Seolah tak puas menyaksikan kerusakan di negeri sendiri, para pejabat pembesar pribumi yang bekerja pada koloni pun ikut andil dalam memeras rakyatnya. Pemerasan itu bisa dalam bentuk kewajiban membayar upeti maupun korupsi. Sehingga tak heran korupsi yang meraja lela, tak pernah tuntas merupakan warisan dari para pembesar bangsa pada jaman penjajahan.

Buku ini mengungkap betapa pelajaran sejarah yang kita terima di bangku sekolah hanya sebatas mengenalkan saja. Pelajaran yang sesungguhnya justru kita dapatkan dari penjelasan penulis sendiri. Pramoedya Ananta Toer melalui pemeriksaan amat detail sepanjang perjalanan hidupnya yang sebagian dihabiskan dalam kurungan mengingatkan bahwa kita adalah bangsa yang kaya tapi tak berdaya, mengingatkan pada kita –melalui makna tersirat– bahwa mental lemah yang kita warisi harus diubah. 

Pembangkitan rasa nasionalisme sengaja dirangkai dan dikemas apik melalui pengisahan sehingga tidak monoton dan tidak terkesan menceramahi. Hanya saja penggunaan gaya bahasa khas sastrawan menjadi kelemahan buku ini karena tak semua kalangan dapat menangkap maksudnya dengan tepat. Selain itu terdapat pula beberapa kata yang asing di telinga namun tak dijelaskan secara rinci. Buku setebal 148 halaman ini akan menjadi sumber referensi yang tepat bagi para pecinta sejarah, tapi justru menimbulkan kebosanan bagi orang awam.